Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2013

(Subhanallah!!) Ungkapan Pemuda Hafidz Tuna Netra yang Mengharukan


Bismillahirrahmanirrahiim...

Assalamualaikum. wr. wb.

Mata adalah jendela dunia. Tanpanya, hidup terasa tak sempurna. Sedih dan mengeluh itu pasti terjadi pada sebagian manusia yang kehilangan penglihatannya. Tapi tidak dengan anak kecil tunanetra dari Mesir ini. Ia adalah salah satu hamba Allah yang ikhlash atas ketetapanNya.

Berikut Rinciannya di bawah ini:
Penyiar TV Arab Saudi Al-Wathan mewancarai anak istimewa ini. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Quran dari Mesir yang berusia 11 tahun.

Dalam wawancara itu penyiar TV Al-Wathan menanyakannya perihal bagaimana ia belajar Al-Quran dan kebutaannya.

Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya.

“Saya yang datang ke tempat syaikh,” katanya.

“Berapa kali dalam sepekan?” tanya penyiar TV.

“Tiga hari dalam sepekan,” jawabnya.

Jawaban anak ini kian membuat terkejut ketika anak ini memberitahu penyiar bahwa Syaikh yang mengajarinya Al-Quran hanya mengajarinya satu ayat per hari.

“Pada awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari,” ujarnya.

“Satu ayat saja?” respon penyiar terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.

Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Quran, hingga ia tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Sang penyira tersenyum dan menempuk paha anak itu tanda kagum, yang disambut senyum ceria oleh anak ini.

Yang lebih mengagumkan adalah pernyataannya tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penghilahatannya, rahmat Allah yang ia harapkan.

“Dalam shalatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku,” katanya.

Mendengar jawaban anak ini sang penyiar semakin terkejut.

“Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu? Kenapa?” tanyanya heran.

Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukan ia tak yakin pada Allah, bukan. Namun ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.

“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu? Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untuk saya pada hari kiamat kelak,” paparnya dengan tegas.

Mendengar kalimat mulia anak ini, semua diam. Penyiar TV nampak berkaca-kaca dan air matanya menetes. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan menitikkan air mata.
penghafal quran tuna netra dari mesir

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?” kata penyiar.

“Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan,” kata penghafal Quran muda ini.

Subhanallah, indahnya dunia tak membuatnya lupa akan Rabbnya dan hari pembalasan.

Ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah (rahimahullah). “Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi ‘Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya,’” katanya.

Kehilangan penghlihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlash menerima takdirNya.

“Segala puji Allah, saya tidak iri kepada kawan-kawan meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat. Ini semua adalah qadha’ dan qadar Allah,” katanya.

“Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi,” kata anak istimewa ini.

Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah.

Dalam sebuah hadits Qudsi Nabi (shallallahu ‘alaihi wa salam) bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الجَنَّةَ

Allah berfirman: “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga.” (HR. Bukhari no. 5653, Tirmidzi no. 2932, Ahmad no. 7597, Ad-Darimi no. 2795 dan Ibnu Hibban no. 2932).
sumber artikel: Ar-Rahmah




Karena Itu …
Kepaa yang sedang merasa bahwa hidupnya sedang sulit …
Dengarkanlah ini :

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu
Tetapi Dia hendak membersihkan kamu
Dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu
Supaya kamu bersyukur”
(Al-Maidah : 6)

Kesulitan yang diberikan Allah justru untuk membersihkan dosa-dosa kita …
Dan menyempurnakan kenikmatan kita …
Karena bersama kesulitan pasti ada kemudahan …
Bersyukurlah … Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita …

Semoga kita dijauhkan dari api neraka, dan dimudahkan nanti hisabnya di Akhirat, serta dijadikan Ahli Surga Firdaus....

Aamiin...

Wassalamualaikum. wr. wb.
 

Sabtu, 05 Januari 2013

(Renungan) 6 Pertanyaan Yang Ga Kita Sangka Jawabannya


Mungkin kita selalu disibukan dengan aktivitas sehari-hari, bekerja terus menerus berangkat pagi pulang malam membuat kita akan lupa untuk selalu ingat kepada Allah . Sedikit mari kita simak catatan di bawah ini sebagai intermezo dan semoga menjadi bahan renungan dalam hidup kita.

  1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ?
  2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ?
  3. Apa yang paling besar di dunia ?
  4. Apa yang paling berat di dunia ?
  5. Apa yang paling ringan di dunia ?
  6. Apa yang paling tajam di dunia ?

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya
Pertama, Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?.
Murid-muridnya menjawab orang tua,guru,kawan,dan sahabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah MATI. Sebab itu sememangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)


Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua
Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?.
Murid -muridnya menjawab negara Cina, bulan, matahari dan bintang bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah MASA LALU. Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.



Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga
Apa yang paling besar di dunia ini?
Murid-muridnya menjawah gunung,bumi dan matahari.
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah NAFSU (Al ARaf 179).Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.



Pertanyaan keempat adalah, Apa yang paling berat di dunia ini?
Ada yang menjawab besi dan gajah.
Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini.Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT,sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.
 
 
Pertanyaan yang kelima adalah, Apa yang paling ringan di dunia ini? Ada yang menjawab kapas, angin, debu dan daun-daunan.
Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan sholat,gara-gara bermesyuarat kita meninggalkan sholat.



Dan pertanyaan keenam adalah, Apakah yang paling tajam di dunia ini?"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang.
Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah LIDAH MANUSIA Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri