Senin, 03 Desember 2012

Ciri Orang yang Dicintai dan Dibenci Allah




Oleh: KH. Najmuddin Muzayyin, M.Ag.
Suatu kali Nabi Musa bertanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala tentang siapa yang Allah kasihi dan tidak kepada hamba-Nya. Pertanyaan itu kurang lebih seperti ini: “Ya Allah bagaimana aku tahu apa ciri orang-orang  yang tengah Engkau cintai dan tidak Engkau cintai.” Lalu Allah berfirman: Sesungunya bila AKU mencintai maka orang itu ada tandanya:

Pertama, Orang yang selalu berdzikir. Aku berikan tanda kalau Aku mencintainya maka orang-orang ini selalu berdzikir.
Dzikir dalam pengertian lebih luas  dimaknai sebagai perbuatan apapun yang semata-mata ridho karena Allah Subhanahu Wata’ala. Dan dzikir ini baik dalam bentuk ucapan, perbuatan ataupun lintasan dalam hati, masing-masing memiliki bobot dan nilai yang tinggi di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Salah satu kelebihan itu seperti disabdakan oleh Kanjeng Rasulullah saw:

“Barangsiapa yang masuk ke dalam pasar kemudian membaca: “laa ilaaha illalahu wahdahu laa syarikalah, wahua hayun laa yamut, wahua alaa kulli syain qodirr., kataballahulladzi alfa afi sanatin…” maka Allah memberikan pahala yang berlipat ribuan.”

Pasar memang mengasikkan tetapi perlu waspada. Di sana tidak sedikit kesempatan orang berbuat curang sangat banyak. Hingga dalam sebuah ayat, celaka besar orang yang menimbang dengan curang. Di pasar itu pulalah sering sekali ditemui timbangan yang dikurangi karena dicurangi. Di pasar juga sering terjadi gejolak harga yang sewaktu-waktu menguras harta dan tiba-tiba memberi keuntungan yang berlipat. Kebohongan, ketidakjujuran dan  lain sebagainya paling mudah ditemui di pasar dimana terjadi transaksi barang dan jasa.

Kita juga bisa melihat dalam doa-doa harian sebagai dzikir yang diinformasikan oleh para sahabat-sahabat Nabi saw dalam merekam tindakan Rasulullah Saw. Hampir dalam setiap perbuatan Rasulullah saw seperti direkam oleh para sahabatnya melakukan doa. Seperti mau tidur dan setelahnya ada doanya. Demikian hingga memakai baju dan melepaskannya. Bahkan ketika hendak masuk WC (water closet) dan keluarnya semua itu ternyata dimulai dan disudahi dengan doa. Untuk mengetahui doa-doa itu banyak sekali buku-buku mengutip doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw. Atau kalau mau merujuk ke sumber asli (hadits) silahkan membuka kitab-kitab hadits di sana banyak sekali.

Kenapa sampai harus membaca do’a-do’a tertentu. Salah satunya misalnya kenapa harus membaca doa saat masuk WC (water closet) doanya seperti berikut:
“Ya Allah lindungi kami dan (kejatahan) syetan laki-laki dan perempuan”
Dalam sebuah riwayat, orang dikejar-kejar syetan kemudian masuk WC dan membaca doa itu, maka kemudian syetan itu tidak bisa melihatnya.

Kelas dzikir kita dimana?
Kalau demikian dimanakah kelas (posisi) dzikir kita kepada Allah SwT. Sesuai dengan yang diajarkan Nabi saw seperti saat kita memakai pakaian, lalu berdoa sesuai sesuai yang diajarkan Nabi, saat itulah dalam kondisi berdzikir.
Selain dzikir yang berbentuk doa, juga disertai niat: “Saya niat memakai pakaian ini untuk menutup aurat karena Allah“. Atau dengan bahasa lain: “saya niat memakai pakaian supaya jangan masuk angin” dan seterusnya.  Niat seperti ini juga termasuk dalam kategori dzikir tingkat tinggi.

Kedua, Orang yang dijauhkan dari perbuatan haram.
Ciri kedua dari orang yang dicintai Allah adalah ia dijauhkan dari perbuatan haram. Sebab merekalah yang layak masuk surga, dan tidak pantas menerima adzab. Karenanya, kita bersyukur bila kita punya perasaan dan tindakan untuk membenci perbuatan-perbuatan jahat: Seperti membunuh, memfitnah, berjudi, berzina, takabur  dll. Jika memliki itu, maka kita memiliki salah satu ciri dicintai Allah subhanahu wata’ala.  Namun kita juga waspada sekali kepada dosa-dosa  yang samar dan tidak terasa seperti kadan-kadang muncul dengan sendirinya seperti membicarkan kejelekan orang, merasa benar dan sombong sendiri, merasa paling pinter dst.
Singkatnya, dua hal tersebut hendaknya menjadi tolok ukur sejauhmana kita berada di sisi Allah subhanahu wata’ala. Jika posisi kita ini tidak seperti dua hal di atas, maka berarti posisi kita sudah bisa diketahui menjadi orang yang tidak dicintai Allah subhanahu wata’ala .

Salah satunya adalah nafsu yang terus dibiarkan dan selalu melakukan perbuatan yang haram. Karena orang yang selalu berbuat haram adalah patut mendapat adzab. Sebab  mereka yang selalu mengikuti nafsunya sendri.
Akhirnya, marilah kita selalu mengedepankan husnudzdzon sekaligus memperbaiki diri guna menjaga amalan-amalan harian agar tetap dalam bimbingan Rasulullah saw. Tentunya dengan terus berupaya  meniru dan memperhatikan prilaku kita sebisa mungkin dengan menjaga sunah-sunah dan tentu saja setelah perbuatan yang wajib-wajib diperkekat.

Dengan terus berupaya belajar untuk tetap berada dalam rel wahyu dan berada di belakang Kanjeng Nabi Muhammad saw, Insya Allah kita bisa menjadi orang yang dicintai Allah. Sekali lagi orang yang dicintai Allah dan dibenci bisa diketahui dari ciri-cirinya. Karenanya mari kita teliti diri kita sendiri dalam kondisi apakah kita saat ini. Wallahu a’lam.

Disampaikan dalam pertemuan bulanan warga Buntet Pesantren Cirebon di rumah Ust. Drs. H. Ahmad Saehu, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu, 9 November 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar